Bagaimana Menerapkan Disiplin Tanpa Kekerasan?

menegakkan disiplinSebagian dari orangtua mungkin pernah merasakan hukuman fisik semasa kecil, baik di rumah atau di sekolah. Barangkali kita tumbuh dan melihat hukuman fisik terjadi sehari-hari, sehingga kita memandangnya sebagai hal yang wajar. Karena orang tua dan guru kita menggunakannya, maka kita menganggap hukuman fisik adalah cara biasa orang dewasa memperlakukan anak-anak. Jika anak nakalnya keterlaluan, barangkali ia perlu dipukul agar jera. Toh, alasannya karena sayang dan niatnya adalah mendidik.

Seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan juga terus berkembang. Sebagai pengasuh dan pendidik utama anak, kita bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman dan mendorong anak untuk berkembang optimal. Kini, sebuah pemahaman baru berkembang bahwa hukuman fisik tidak layak, melanggar hukum, dan berbahaya bagi anak-anak. Hukuman fisik semestinya tidak lagi mendapat tempat dalam pendidikan, baik di rumah atau di sekolah.

Hukuman fisik berdampak rasa marah, malu, takut dan tidak percaya diri. Anak yang memperoleh hukuman fisik dapat pula kehilangan rasa percaya pada orang dewasa yang menghukumnya berulang kali. Hukuman fisik juga mengajari anak bahwa kekerasan adalah cara wajar untuk membuat orang lain mengikuti keinginan kita. Mereka
dapat meneruskannya sebagai pelaku perisakan (bullying) pada teman, atau kekerasan dalam rumah tangga saat dewasa. Lalu, Bagaimana Menerapkan Disiplin Tanpa Kekerasan?

Disiplin positif adalah pendekatan baru untuk guru dan orang tua membimbing perilaku anak. Dengan disiplin positif, guru dan orang tua diharapkan memperhatikan dahulu kebutuhan psikologis dan emosional anak sebelum memperhatikan perubahan perilaku. Tujuan disiplin positif adalah membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab untuk membuat keputusan yang baik dan penuh pertimbangan. Disiplin positif membantu anak belajar disiplin dengan motivasi dari dalam dirinya sendiri, bukan karena takut kepada orang lain.

Dalam disiplin positif, anak dikenalkan pada konsekuensi atas perbuatannya. Jika perbuatannya tidak baik, anak mendapat konsekuensi sesuai perilakunya. Konsekuensi yang disepakati anak dan guru atau orang tua, bukan hal-hal yang memalukan atau berbau kekerasan. Misal, anak menumpahkan gelas berisi kopi ke atas karpet. Konsekuensinya, dia harus membersihkan dan mengeringkan karpet itu.

source : Parenting Indonesia