Dampak Memarahi Anak

Hi Parents, Bila Anda sedang emosi dan ingin memarahi anak, renungkan beberapa hal ini…

 

dont yell kids

 

Sebagai orangtua yang sudah dikaruniai satu anak maupun lebih, sudah seharusnya membekali diri dengan ilmu mendidik anak. Ilmu tersebut bukan hanya bermanfaat untuk kita sebagai orangtua, tetapi juga untuk buah hati kita. Berbagai cara yang dapat kita lakukan adalah dengan banyak membaca buku-buku parenting, mengikuti seminar orangtua, berdiskusi dengan sesama orangtua, dan yang paling mudah tentunya mengingat dan melihat kembali bagaimana orangtua kita dulu mendidik kita.

Nah Parents, jangan memarahi anak, jangan membentak anak, dan jangan membanding-bandingkan anak dengan orang lain, ya. Kenapa kita tidak boleh memarahi anak?

Selain hal itu tidak baik untuk perkembangan anak, berikut beberapa dampak memarahi anak :

1. Minder

Apabila seorang anak sering dimarahi di hadapan umum, maka sikap utama yang sering dialami oleh kebanyakan anak ialah menjadi minder dan tidak percaya diri. Seorang anak akan mungkin mengalami trauma yang berkepanjangan ketika saat kecilnya ia sering dimarahi dan dibentak oleh kedua orangtuanya di hadapan banyak orang. Meskipun terkadang orang-orang di sekeliling menganggap tindakan tersebut adalah tindakan biasa, namun bagi anak hal tersebut dapat membuat jiwanya tertekan.

2. Takut Bersosialisasi

Mungkin Anda tanpa sadar menghardik, “Dasar kamu anak bodoh!”

Apa efek dari kemarahan tersebut terhadap anak? Ia akan merasa yakin bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar bodoh. Sebab, orangtuanya pun telah men-judge bahwa dia memang seorang anak yang bodoh. Ini tentunya akan berdampak negatif pada perkembangan dan pergaulan anak nanti. Ketika dia dewasa pun, anggapan bahwa dirinya bodoh akan tetap melekat pada diri seorang anak. Ujung-ujungnya sang anak akan memiliki sikap tidak percaya diri.Tindak lanjut dari sikap tidak percaya diri tersebut ialah anak akan sulit untuk melakukan sosialisasi dengan orang-orang di luar. Hal tersebut disebabkan oleh rasa tidak percaya diri yang telah dibentuk sejak ia kecil.

Dan situasi akan semakin bertambah buruk apabila orangtua tidak berperan dalam pembentukan jati diri sang anak. Apabila orangtua membiarkan si anak terus-menerus hidup dalam kungkungannya, maka ia pun akan tambah susah untuk bersosialisasi. Sosialisasi sangat penting dalam sebuah kehidupan. Betapa tidak, manusia akan selalu bergantung kepada manusia lainnya. Dalam hal apa pun, ia akan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap sosial yang baik untuk memudahkan ia dalam proses bersosialisasi.

3. Menjadi Judes dan Egois

Akibat perilaku memarahi anak di muka umum ialah anak akan menjadi pribadi yang egois dan individualis. Hal ini terjadi karena perilaku memarahi juga akan menimbulkan sikap keras sang anak. Apabila hal tersebut dilakukan terus-menerus, sang anak akan menjadi pribadi yang memberontak dan keras. Kepercayaannya terhadap sekitar perlahan sirna sehingga ia menjadi arogan dan cuek terhadap keadaan di sekelilingnya.

Salah satu perilaku yang sering dilakukan oleh anak adalah meniru kebiasaan orangtuanya. Apabila ia terbiasa dengan sikap marah dari orangtuanya, maka ia pun akan menirukan tindakan yang sama, baik kepada saudara, adik, maupun ke teman sebayanya. Bahkan untuk urusan yang sepele pun, ia tidak canggung untuk melakukannya. Anak pun tidak sungkan melakukan tindakan tersebut di depan umum. Sebab, ia berkaca pada tindakan orangtuanya yang sering melakukan hal yang sama di muka umum.

source : The Asian Parent Indonesia